Aspek Aspek Pendidikan Dalam Islam

Pembinaan dalam persfektif Pendidikan Islam adalah proses membangun manusia seutuhnya, yaitu upaya berencana yang mampu merekayasa pembinaan sesuai dengan sistem pendidikan Islam. Hal ini mengingat tujuan akhir dari pendidikan Islam adalah mewujudkan manusia yang mampu merealisasi pengabdian hanya kepada Allah swt dalam kehidupan individu dan masyarakat serta mampu menjalankan fungsi dan perannya sebagai khalifah di muka bumi.

Karenanya bidang garapan pendidikan Islam mencakup semua nilai yang membentuk semua aspek kepribadian muslim. Aspek-aspek yang mendapat perhatian Islam adalah: akidah, ibadah, akhlak, ijtimaiyah (sosialisasi), nafsiah (kejiwaan), fikriyah (intelektual), jasmani dan seksual (lihat lampiran: contoh-contoh aspek PI).
1. Aspek Akidah
Yakni pembinaan keimanan pada anak didika, agar ia bersikap dan berperilaku sesaui dengan nilai-nilai imaniah, yang merupakan dasar bagi aspek-aspek pendidikan yang lain.

Uraian secara lengkap tentang aspek Akidah, silahkan baca pada halaman ini: Pendidikan Akidah Dalam Islam

2. Aspek akhlak
Yakni menanamkan sikap dan sifat serta adab-adab dalam Islam yang dicontohkan Rasulullah saw.

Uraian secara lengkap tentang aspek akhlak, silahkan baca pada halaman ini: Pendidikan Akhlak Dalam Islam

3. Aspek Intelektual
Yaitu pembinaan intelektual anak dengan berbagai pengetahuan, utamanya pengetahuan dasar keislaman. Aspek ini mendapat perhatian yang cukup di kalangan sahabat dan tabiin, khususnya pengetahuan al-Qur’an, siroh, serta ilmu-ilmu yang diperlukan bagi kehidupan. Hasan bin Ali menasehti anak-anaknya: Hendaknya kalian terus belajar, karena kalian anak kecil hari ini, tetapi kalian adalah generasi masa depan (Muhammad Utsman Jamal. Op.cit. 124).

Pendidikan intelektual ini hendaknya memiliki sasaran yang jelas, antara lain: Menumbuhkan pikiran anak agar menjadi insan yang mengabdi kepada Tuhan.Mengembangkan akal pikiran manusia dan potensinya lewat eksperimen ilmiah. Memberikan kesmpatan akal untuk berlatih menganalisa dari peristiwa-peristiwa yang menimpa umat terdahulu dan sekarang untuk dijadikan pelajaran bagi kehidupan.

a. Belajar Menulis dan Membaca.

Di dalam buku Thobaqot Ibnu Sa’ad hal: 14 bagian 1 juz 2 dijelaskan, bahwa Nabi saw meminta kepada setiap tawanan perang Badar mengajarkan membaca dan menulis 10 anak muslim.

Kisah Ibunda Malik yang senantiasa memotivasi anaknya Imam Malik untuk menghadiri majlis-majlis ilmu. 

Hasan Basri menasehati anaknya: “Wahai anakku, jika engkau duduk bersama ulama hendaknya engkau mendengar orang yang lebih semangat dari dirimu untuk mendengarkan apa yang engkau ingin katakan, belajarlah mendengar aktif, sebagaimana engkau belajar berkata-kata yang baik, jangan engkau potong pembicaraan orang walaupun panjang sampai ia berhenti bicara”.
Hasan bin Ali menasehati anak-anak dan keponakannya: Belajarlah-belajarlah, karena kalian masih kecil, agar menjadi generasi akan datang, siapa yang tidak mampu menghafal maka tulislah (pelajarannya)”. (Kitab al-kifayah fi ilmi ar-riwayah, Khatib al-Baghdadi hal 229).
Atho bin Abi Robah berkata kepada murid-muridnya: Anak-anak sekalian, tulislah, siapa yang belum dapat menulis, kami akan ajarkan menulis, siapa yang tidak punya kertas, kami akan berikan kertas itu”. (kitab al-muhadits al-fashl: 3). 

Tajuddin as-Subki mengkisahkan ppengalaman pribadinya: Sewaktu aku masih kecil, ayahku mengirimku kepada adz-Dzahabi setiap hari 2 kali pagi dan petang, sedangkan Imam al-Mazi aku datang kepadanya sepekan 2 kali, karena memang Imam adz-Dzahabi sangat sayang kepadaku, padahal ayahku lebih suka aku sering pergi belajar kepada Imam Mazi, beliau adalah seorang yang sangat berwibawa dan sulit senyum, maka aku lebih suka ke Imam adz-Dzahabi.. Setiap aku pulang dari Syeikh, ayahku selau menanyakan apa yang telah aku pelajari dari Syeikh (kitab ath-Thobaqot Tajuddin as-Subki, 10: 398-399).

4. Aspek Psikologi
Yakni pembinaan dan pengembangan jiwa anak yang merupakan potensi yang dianugrahkan Allah swt, Uraian secara lengkap tentang aspek akhlak, silahkan baca pada halaman ini Pendidikan Psikologi Dalam Islam

5. Aspek Jasmani

Yakni proses pembinaan jasmani anak, agar menjadi kuat dan sehat.Imam Ahmad meriwayatkan dari Shahabat Abdullah bin al-Harits, berkata: Rasulullah saw suatu ketika membariskan anak-anak seperti Abdullah, Ubaidillah dan Katsir bin al-Abbas, seraya berseru: Siapa yang dapat memenangkan lomba lari denganku, maka ia akan memperoleh hadiah. Merekapun berlomba berlari, namun mereka berjatuhan di punggung dan dada Nabi, beliaupun mencium mereka (Muhammad Utsman Jamal, op.cit. hal: 114). Pembinaan Jasmani ini meliputi: Pengembangan semua potensi jasmani secara sehat dalam rangka membentuk kepribadian yang integral, seimbang dan berkualitas, perhatian kepada aspek kesehatan jasmani dengan menjaga kebersihan dan memelihara diri dari berbagai penyakit.

a. Bermain :

Abdullah bin al-Harits r.a berkata: Suatu hari Rasululah sw membariskan Abdullah, Ubaidillah dan Katsir bin Abbas r.a kemudian berkata: Siapa yang dapat membalapku maka ia mendapat hadiah,maka mereka berlomba sampai ada yang terjatuh di punggung beliau dan di dada beliau, beliaupun mencium mereka. 

Kisah anak-anak yang bermain dengan pasir. “Pasir adalah Robi’ush-shibyan”.
Bermainnya Rasulullah sendiri dengan cucunya Hasan dan Husein, seperti dalam riwayat Abu Ayyub al-Anshari: Aku masuk ke rumah Rasulullah saw, beliau sedang bermain dengan Hasan dan Husein, aku katakan: Apakah engkau mencintai keduanya wahai Rasulullah. Beliau berkata: Betapa tidak, keduanya adalah raihan yang paling wangi bagiku di dunia (HR Thobroni dalam kitab al-Majma’ 9/181). Demikian yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dari Saad bin Abi Waqos. 

Suatu saat Nabi keluar membawa Hasan r.a di atas pundaknya, seorang yang melihat berkata: wahai anak kecil, kendaraan yang terbaik yang engkau kendarai. Rasulullah bersabda: Dia adalah penunggang yang terbaik (Ibnu Asakir dari Ibnu Abas dalam kitab al-Kanzu 7/104). 

Jabir r.a berkata: Aku melihat Rasulullah saw merangkak, di atas punggungnya Hasan dan Husein r.a seraya berkata: Unta terbaik adalah unta kalian dan penunggang terbaik adalah kalian berdua”.

b. Latihan Fisik

Rasulullah saw sering melakaukan tes terhadap remaja yang akan berangkat ke medan perang dengan pertandingan gulat, siapa yang menang dialah yang dibolehkan ikut perang melawan orang kafir.
Umar bin Khathab berpesan kepada menteri-menterinya: ajarkan anak-anak kalian olah raga renang, menunggang kuda, dan ajarkan syair-syair serta kata-kata indah. 

Imam Syafii juga dikenal dengan orang yang pandai memanah dan memotivasi anak-anak berolah raga memanah. 

Imam Ghozali: Perkenankan anak-anak anda bermain setelah lelah belajar mengaji di Kutab, pilihkan mainan yang indah dan baik serta tidak melelahkan, karena melarang anak bermain sama halnya dengan mematikan hatinya dan memperlambat kecerdasannya.

6. Aspek Estetika

Dengan cara menumbuh-kembangkan rasa estetika dalam diri manusia danegan arahan-arahan Islam, bertolak dari sabda Nabi: “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencitai keindahan” (al-hadits).

7. Pendidikan Kemasyarakatan

Yaitu pembinaan anak dalam rangka membentuk insan muslim yang bermasyarakat dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Pendidikan Sosial ini dapat direalisasi dengan cara mengajak anak menghadiri pertemuan-pertemuan orang dewasa, mengutusnya untuk keperluan tertentu, membiasakan salam, menjenguk teman yang sakit, mengajak anak bersilaturahmi, menghadiri acara pesta pernikahan dsb.

a. Menghadiri Majlis-majlis orang dewasa.
suatu saat di dalam majlis Rasulullah saw bertanya kepada yang hadir: Ada satu pohon perumpamaannya seperti muslim, ia memberikan buahnya setiap saat dengan izin Allah, tidak berjatuhan dedaunnya. Ibnu Umar berkata dalam hatinya: pohon itu adalah pohon kurma, tetapi aku enggan mengatakannya, karena ada ayahku dan ada Abu Bakar r.a. Mereka pun terdiam,lalu Nabi berkata: Itulah pohon kurma. Ketika aku keluar dari majlis bersama ayahku, aku berkata: ayah…padahal aku tahu jawabannya, yaitu pohon kurma, tetapi aku enggan mengatakannya. Ayahku Umar berkata: Aku akan lebih suka jika engkau mengatakannya (jangan malu-malu). Aku memberikan alasan: karena di majlis itu ada Abu Bakar r.a. (Bukhari). 

Imam Ahmad meriwayatkan: Anas berkata: Dia, Rasulullah saw, umi dan bibinya pernah melakukan shalat bersama. Anas berada di sebelah kanan Rasul, umi dan bibinya di belakangnya.

b. Memberikan Tugas.
Anas bin Malik bercerita: …. Ketiak aku sedang melihat kawan-kawan sedang bermain, Rasulullah mendatangi kami dan mengucapkan salam kepada kami, beliau memanggilku untuk suatu keperluan, aku segera memenuhi keperluannya, sehingga aku datang terlambat ke umiku, umiku bertanya: Mengapa engkau terlambat anakku ?. aku menjawab: Rasulullah memintaku untuk keperluannya. Umi ku bertanya lagi: Apa keperluannya? Aku bilang: itu rahasia Rasulullah saw. Umiku pun berkata: Jagalah rahasia Rasulullah. Tsabit al-Bunani (perawi hadits) berkata: Anas berkata kepadaku: Wahai Tsabit, jika aku mau memberitahu rahasia itu wahai Tsabit, maka aku akan katakan kepadamu”. (HR Bukhari Muslim dan Ahmad). 

Rasulullah saw bersabda: Ada seseorang yang menghutangi orang banyak, ia berkata kepada anaknya: jika engkau datangi orang kesusahan maka lewatkanlah (tangguhkanlah hutang sementara) semoga Allah memudahkan kita, ketika orang itu wafat Allah swt memudahkannya (hisabnya). (HR Bukhari Muslim). 

Rasulullah bersabda: Seorang dihisab di hari akhir, tidak ada kebaikan baginya selain dia bergaul dengan orang 9masyarkat) dalam keadaan ia kaya, ia memerintahkannya anak-anak untuk memudahkan orang yang dalam kesulitan, Allah swt berfirman: Kami lebih berhak darinya, maka mudahkanlah orang itu. (Muslim dari Abu Mas’ud al-Badri).

c. Membiasakan salam.
Anas bin Malik lewat di depan kawan-kawannya dan mengucapkan salam seraya berkata: Rasulullah saw melakukannya. (Bukhari Muslim).
Rasulullah bersabda: Wahai anakku, jika engkau masuk rumah, ucapkanlah salam, niscaya akan medndatangkan keberkahan kepadamu dan kepada keluargamu (HR. Tirmizi dari Anas).

d. Menjenguk orang sakit.
Ada seorang anak Yahudi yang berkhidmat kepada Rasulullah, ketika ia jatuh sakit Rasulullah saw menjenguknya, seraya berkata: masuklah ke dalam Islam, anak itupun memandang ke ayahnya. Ayahnya berkata: Taatilah Abul Qosim. Anak itupun masuk Islam. Rasulullah saw bersabda: Alhamdulillah, Dia telah menyelamatkannya dari api neraka”. (Bukhari dari Anas).

e. Izin kepada Anak untuk mengalah dari haknya.
Sahal bin Saad berkata: Suatu hari Rasulullah saw diberikan minuman, di sebelah kanan beliau seorang anak dan sebelah kirinya seorang lelaki tua, setelah beliau minum, beliau berkata kepada anak kecil di sebelah kanan: Apakah engkau mengizinkan aku memberikan mereka minuman ini ? anak kecil itu berkata –ia adalah anak yang cerdas dan cekatan-: Tidak wahai Rasulullah, aku tidak mendahulukan orang lain dari dirimu. Maka Rasul pun meletakkan minuman itu di tangannya.

f. Mengarahkan permainan anak bersama anak-anak yang sholih.
Suatu saat Nabi berjalan bersama beberapa shahabat, ketika lewat di depan anak-anak yang sedang bermain dengan tanah pasir, para shahabat melarang mereka, Nabi saw berkata: Biarkan mereka bermain dengan tanah pasir itu, karena tanah pasir bagi anak adalah seperti musim semi” (HR Thobroni dari Sahal bin Saad, hadits lemah sekali).
Rasulullah saw sendiri bermain langsung dengan anak-anak (lihat pembinaan jasmani).

g. Menghadiri walimah pernikahan.
Dari Abdul Aziz bin Shuhaib dari Anas r.a, bahwa Nabi saw melihat anak-anak kecil dan wanita datang menghampiri, Abdul Aziz berkata: saya mengira beliau berkata: -(datang) dari walimah arus- lalu Nabi berdiri seraya berkata: Ya Allah kalian (Anshar) adalah orang yang paling aku cintai, kalian adalah orang yang paling aku cintai, kalian adalah orang yang paling aku cintai (HR Imam Ahmad).

8. Aspek Biologis
Yaitu pembinaan anak dalam rangka mengarahkan unsur seksual agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan tuntunan agama.

a. Mengajarkan Izin Setiap Masuk Kamar dan atau Rumah.
“Wahai orang-orang beriman hendaklah minta izin kepadamu orang-orang yang dalam tanggunganmu dan yang belum baligh pada 3 waktu, yakni: sebelum shalat Shubuh, ketika kalian meletakkan pakaian di siang hari (setelah Zhuhur) dan setelah shalat Isya, tiga waktu itu adalah aurat bagi kalian ….. Mereka adalah pelayan, anak-anak kecil yang mumayiz tetapi belum baligh, hal ini sering dilupakan orang, dengan asumsi bahwa hal itu tidak memberikan dampak negatif pada anak-anak kecil, padahal para psikolog mengatakan, bahwa pamandangan yang dilihat anak-anak kecil akan mempunyai dampak pengaruh di dalam kehidupannya di waktu dewasa..(Fi Zhilal al-Qur’an 18/123, cet. 4).

b. Memelihara Pandangan.
Fadel bin abas berkata: suatu saat aku di belakang Nabi saw dari Muzdalifah menuju ke Mina, di perjalanan bertemu dengan seorang Badui yang membawa putrinya yang cantik seraya mendampingi Nabi. Aku sempat melihat anak itu, maka Nabi segera memandangiku lalu memalingkan wajahku dari pandangannya, kemudian aku ulangi lagi memandang anak itu, Nabi segera memalingkan wajahku kembali, hal itu terjadi 3 kali. Nabi terus bertalbiyah sampai melontar Jumroh Aqobah” (HR Ahmad).

c. Memisahkan Dalam Tiduran.
“…..Pisahkan tempat tidur mereka …” hadits. Perintah pisahkan dengan kata-kata perintah (amar) yang merupakan kewajiban untuk diperhatikan dan dilaksanakan.

d. Mengajarkan Mandi Jinabah menjelang baligh, berikan informasi tentang taklif dan kewajiban-kewajiban serta tanggung jawab saat itu baligh, serta ajarkan tentang tanda-tanda fisik, psikis dsb saat beligh tiba nanti sebelum ia mendapatkan informasi yang salah dari orang luar. Lakukan hal dengan cara lemah lembut dan dialogis. Seperti kisah seorang remaja yang minta penjelasan tentang zina kepada Nabi saw dalam hadits riwayat Imam Ahmad dan Thobroni dari Abi Umamah.

Sumber:Cuplikan dari Tulisan DR. H.M. Idris A.Shomad M.A dengan judul :INTEGRITAS PENDIDIKAN ISLAM
Aspek Aspek Pendidikan Dalam Islam