Pendidikan Psikologi Dalam Islam

Yakni pembinaan dan pengembangan jiwa anak yang merupakan potensi yang dianugrahkan Allah swt, yang meliputi pemberian rasa kasih sayang dengan senyuman, ciuman, rasa aman pada anak, bergurau, pemberian penghargaan moril dan materil dsb.

Pendidikan kejiwaan tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara sbb: mengembangkan watak anak secara utuh tidah terpecah-pecah, mengendalikan kehendak anak dengan memberikan segala kebutuhannya sekaligus, menanamkan rasa cinta, harapan dan sikap optimis sehingga anak terleasa dari stres dan penyakit jiwa lainnya, juga menanamkan bahwa Allah senantiasa bersama kita dan mendorong anak agar beramal dan belajar tekun.

Di antara cara pembinaan emosi adalah pemberian ciuman, mengusap kepala, memberi hadiah, bercanda (bermain) dll.

Uraian selengkapnya, dapat sobat simak penjalasannya di baawah ini
Datang beberapa orang dari Badui Arab kepada Rasulullah saw seraya berkata: Apakah kalian mencium anak-anak kalian? Beliau berkata: Benar. Kata mereka: Kami demi Allah tidak mencium anak-anak, Rasulullah saw memberikan arahan kepada mereka: Dan apakah aku memiliki kemampuan jika Allah mencabut dari hati kalian rasa belas kasih ? ( Bukhari Muslim dari St. Aisyah).

Abu Hurairah berkata: Nabi saw mencium Hasan bin Ali r.a, maka al-Aqra’ bin Habis berkata: Saya punya 10 anak tak seorang pun yang aku cium. Kemudian Rasulullah saw bersabda: Siapa yang tidak mengasihi niscaya tidak dikasihi 

Abu Sofyan bercerita: Aku pernah masuk ke rumah Muawiyah sedang tidur terlentang, sementara di atas dadanya seorang anak sedang bermain, akupun berkata: hindari ini wahai amiril mukminin, Muawiyah berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Siapa yang mempunyai anak kecil maka hiburlah dia (dengan bermain)”. (HR ad-Dailami dan Ibnu Asakir). 

Abu Hurairah; Suatu saat Nabi keluar rumah di siang hari tidak berbicara kepadaku dan akupun tidak berkata-kata kepadanya, sampai tiba di pasa Bani Qoinuqo’, lalu beliau duduk di halaman rumah Fatimah r.a seraya berkata: Adakah di sana (di dalam rumah) anak kecil (Hasan), segera Fatimah mengambil masuk anaknya, aku (Abu Hurairah) rasa ia memakaikan perhiasan atau memandikannya, setelah selesai, Rasulullah menghampiri dan memeluknya serta menciumnya seraya bersabda: Ya Allah cintailah dia, dan cintailah orang yang mencintainya (Bukhari). 

Jabir r.a berkata: Kami bersama Raslullah saw untuk memenuhi undangan makan, disana ada Husein r.a sedang bermain di jalan bersama teman-temannya, segera Nabi menghampirinya dan membentangkan tangannya sambil lari ke sana dan kesini, serta membuat tertawa dan mengambilnya (menggendong), tangannya yang satu menyentuh jenggotnya dan yang lain memegang kepala dan telinganya, kemudian memeluknya dan menciumnya seraya berkata: Husein dari diriku dan saya bagian darinya, Allah mencintai orang yang mencintainya, Hasan dan Husein sabthoni minal asbath”. (HR ath-Thobroni). 

Abu Hurairah berkata: aku mendengar dengan dua telingaku dan melihat dengan dua mataku, bahwa Rasulullah saw memegang telapak tangan Hasan (atau Husein) dengan kedua tangannya, sedangkan kedua kakinya di atas kaki Rasulullah seraya berkata: naiklah, maka anak itu naik sahingga meletakkan kedua kakinya di atas dada Rasulullah saw, kemudian Rasul berkata lagi: bukalah mulutmu, lalu menciumnya seraya berkata: Allahumma cintailah dia aku cinta kepadanya”. (Bukhari di dalam Adabul Mufrid). 

Di dalam buku al-Ishobah ada tambahan riwayat: Huzuqqoh huzuqqoh (hai si kecil mungil berperut besar / panggilan bergurau) naiklah naiklah wahai si sipit). 

Di dalam kitab an-Nihayah Ibnul Atsir: Nabi saw pernah menari-narikan Hsasan atau Husein seraya berkata: Huzuqqoh huzuqqoh, naiklah wahai si mata sipit. Anak itupun naik sampai menaruh kakinya di atas dada beliau. 

Abu Hurairah: Rasulullah saw ketika hari panen kurma pertama kali beliau bersabda: Ya Allah, berkahilah kami di kota kami dan pada buah-buahan kami, pada takaran kami, keberkahan demi keberkahan, kemudian memberikan kurma itu kepada anak kecil yang hadir pada saat itu. (Muslim).
Hanzholah: ….. Ketika kami di dekat engkau, mengingatkan syurga dan neraka seakan keduanya di depan mata, tetapi jika kami jauh darimu, kami bersendagurai dengan istri, anak dan pekerjaan kami, kami sering lupa. Rasulullah saw: Kalian tidak dapat melakukan terus satu pekerjaan, tetapi sesaat demi sesaat wahai Hanzholah ! (Bukhari Muslim). 

Ibnu Hiban meriwayatkan dari Anas r.a berkata: Rasulullah saw ketika menziarahi orang Anshar mengucapkan salam kepada anak-anak kecil mereka dan mengusap kepala mereka (tanpa kasih sayang) 

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far r.a berkata: Adalah Nabi saw jika datang dari bepergian, menjumpai anak-anak di rumah, suatu saat beliau datang,langsung beliau dekatkan saya dan membawaku ke hadapannya, kemudian mengambil seorang anak dari 2 anak Fathimah (Hasan dan Husein), lalu meletakkan di belakangnya (digendong)

Sumber: Cuplikan dari Tulisan DR. H.M. Idris A.Shomad M.A dengan judul :INTEGRITAS PENDIDIKAN ISLAM
Pendidikan Psikologi Dalam Islam