Pendidikan Akhlak Dalam Islam

Yakni menanamkan sikap dan sifat serta adab-adab dalam Islam yang dicontohkan Rasulullah saw. Mukhallad bin al-Husein berkata kepada Ibnu al-Mubarak: Kami lebih mengedepankan pelajaran adab dari hadits yang terlalu banyak”. Sebagaimana nasehat sebagian para Salaf kepada anaknya:”Wahai anakku, belajar satu bab tentang adab lebih aku sukai daripada belajar 70 bab ilmu lainnya (Muhammad Utsman Jamal, Bina Syaksiyat ath-thiflil Muslim hal: 83).

“Mengajarkan adab (budi pekerti) pada anak lebih baik dari bersedekah satu sha’” (HRTirmizi dari Jabir bin Samuroh).

“Mukhollad bin al-Hasan berkata kepada Ibnu Mubarak: Kami lebih memerlukan adab daripada hadits-hadits yang banyak”. Sebagian Salaf berkata kepada anak-anak mereka: Wahai anakku, engkau belajar adab satu bab lebih aku sukai dari belajar 70 bab ilmu” (Adabul Imla walistimla’).

Abu Abdullah al-Hafizh berkata: aku mendengar Abu Zakaria al-Anbari berkata: ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, adab tanpa ilmu seperti ruh tanpa jasmani”.


A. Adab (Budi Pekerti)

a. Adab terhadap kedua orang tua:
Abu Ghossan al-Dhobbi berkata: aku berjalan bersama ayahku di siang hari, ketika bertemu dengan Abu Hurairoh, ia berkata: siapa ini wahai Abu Ghossan ? Ini adalah ayahku, kataku. Ia menasehatiku: Jangan engkau berjalan di depan ayahmu, berjalanlah di belakang atau disampingnya, jangan biarkan seseorang menghalangimu darinya(berdiri diantaramu dari dia), jangan pula berjalan di atas ayahmu yang menakutkannya, jangan makan tulang ‘berdaging’ (‘araq) yang telah dilihat ayahmu, barangkali beliau menginginkannya” (Majma’ az-zawaid 8/136, hadits mauquf).

Said bin al-Musayyib berkata: Qoulan Kariman artinya perkataan seperti perkataan seorang hamba sahaya yang bersalah kepada tuannya yang bengis dan keras” (Tafsir al-Qurthubi 10/243). Maksudnya adalah berkata dengan perkataan yang lemah lembut, suara perlahan.

Walid bin Numair bin Aus, bahwa ia mendengar ayahnya berkata: Dahulu mereka mengatakan: “kesolihan adalah dari Allah, sedangkan adab dari orang tua”. (Bukhari di Adab al-Mufrid 1/731).

b. Adab kepada Ulama:
Rasulullah saw bersabda: Lukman berkata kepada anaknya: Wahai anakku, hendaknya engkau duduk besama ulama, dengarkan kata-kata hikmahnya, karena Allah menghidupkan hati yang mati dengan nur hikmah, seperti menghidupkan tanah yang mati dengan air hujan” (Thabrani dari Abu Umamah).
Setelah Said bin al-Musayyib melakukan shalat sunat 2 rokaat, kemudian duduk di majlis ilmu, maka berkumpulalah anak-anak shahabat Rasulullah saw dari kalangan Anshar dan Muhajirin, tak seorangpun dari mereka yang berani bertanya sesuatu sebelum Said memulai kata-katanya, atau datang seseorang kepadanya bertanya, merekapun mendengarkannya” (as-Sam’ani dalam kitab Adab al-Imla wa al-istimla hal: 36).

Ibnu Abbas berkata: Jika aku dengar seorang dari shahabat Rasulullah menyimpan hadits, aku segera mendatanginya, aku datang di siang hari saat mereka sedang tidur siang, aku menunggunya di pintu rumahnya, saat ia keluar pada waktu ashar, baru aku menemuinya….(Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam bukunya ‘Shofahat min shobril ulama’ hal: 37, ia merujuk ke kitab Bidaya dan Nihayah 85/298).

c. Adab Izin.
Suatu hari Atho bertanya kepada Ibnu Abbas, seraya berkata: Apakah aku harus izin kepada saudara perempuanku ? kata Ibnu Abbas: Ya. Akupun mengulangi bertanya: Kedua saudaraku di dalam asuhanku dan akulah yang menafkahkannya, apakah harus izin masuk kepadanya ? Ibnu Abbas menjawab: Ya, apakah kau ingin melihatnya dalam keadaan telanjang. Kemudia ia membcakan ayat (an-Nur: 58), maka izin adalah wajib. (Bukhari dalam Adab al-Mufrid 2/515).

Cara izin yang dicontohkan Rasulullah adalah berdiri di sebelah kanan atau di kiri pintu masuk,sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Busur (HR Ahmad dan Abu Daud).
Anas bin Malik suatu saat masuk kepada Rasululah tanpa izin, beliau menasehatiku: Wahai anakku, sungguh terjadi suatu perkata, jangan engkau masuk kepadaku tanpa izin” (Ahmad).

d. Adab Makan:
Umar bin Abi Salamah bercerita di masa kecilnya: Ketika itu aku di bawah asuhan Rasulullah saw, tanganku menjamah-jamah makanan dalam cawan, lalu Rasulullah menasehatiku: Wahai anakku, ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makan yang dekat dengan dirimu”. Begitulah seterusnya cara makanku. (Bukhari Muslim).
Imam al-Ghozali menjelaskan dalam kitab Ihya Ulumuddin 3/72 adab makan yang hendaknya dibiasakan anak sejak kecil, a.l: makan dengan tangan kanan, memulai dengan basmalah, makan seperlunya, tidak mendahului seseorang (mempersilakan) orang lain terlebih dahulu, tidak tergesa-gesa dalam makan, tidak memandang makanannya selalu atau memandang orang yang makan bersamanya, mengunyahnya dengan baik, tidak menyuap berturut-turut tanpa henti, tidak menyeka tangan atau bajunya dsb.

e. Adab Ukhuwah:
Menghormati yang lebih besar, menyayangi yang lebih kecil, larangan menakut-nakuti seseorang baik kecil maupun besar dengan pisau atau senjata yang lain ssebagimana hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah, itu semua merupakan arahan adab berukhuwah sesama anak.

f. Adab bertetangga :
Rasulullah bersabda: “Jangan izinkan anak kamu keluar (dengan makanan) yang membuat anak orang lain marah”.

B. Sifat Jujur.

Abdullah bin Amir berkata: Umiku suatu saat memanggilku, Rasulullah sedang duduk di rumah kami, umiku berkata: Kemarilah aku akan berikan sesuatu. Rasulullah pun bertanya: Apa yang akan engkau berikan kepadanya? Umiku menjawab: Aku akan berikan kurma. Beliau mengarahkan: Jika engkau tidak memberikan sesuatu kepadanya, maka engkau akan dicatat sebagai pendusta”. (HR Abu Daud).

C. Berlatih Menjaga Rahasia. 

Kisah Anas bin Malik ketika bertemu dengan uminya.
Abdullah bin Ja’far: Suatu hari Rasulullah saw memboncengku lalu beliau membisikkan suatu rahasia untuk tidak dibicarakan kepada seorangpun (Muslim).

D. Amanah:

Imam Nawawi meriwayatkan dalam kitab al-Adzkar, kami riwayatkan dari kitab Ibnu as-Sunni dari Abdullah bin Busur al-Mazni: Umiku mengutusku kepada Rasulullah dengan setangkai anggur, lalu aku memakan anggur tersebut sebelum aku tiba kepada beliau, sesampainya aku di tempat beliau, telingaku dipegangnya seraya berkata: ya Ghudar!

E. Menjauhi Kedengkian.

Anas bin Malik berkata, bahwa Rasulullah bersabda: Wahai anakku, jika engkau ditakdirkan pada pagi dan petang ini tidak terdapat di dalam hatimu kedengkian kepada seseorang, maka lakukanlah itu terus, kemudia bersabda: wahai anakku, itu adalah sunnahku, siapa yang menghidupkan sunahku sa,a halnya menghidupkanku, siapa yang menghidupkanku dia akan bersamaku di syurga kelak” (HR Tirmizi).

Aspek Intelektual

Yaitu pembinaan intelektual anak dengan berbagai pengetahuan, utamanya pengetahuan dasar keislaman. Aspek ini mendapat perhatian yang cukup di kalangan sahabat dan tabiin, khususnya pengetahuan al-Qur’an, siroh, serta ilmu-ilmu yang diperlukan bagi kehidupan. Hasan bin Ali menasehti anak-anaknya: Hendaknya kalian terus belajar, karena kalian anak kecil hari ini, tetapi kalian adalah generasi masa depan (Muhammad Utsman Jamal. Op.cit. 124).

Pendidikan intelektual ini hendaknya memiliki sasaran yang jelas, antara lain: Menumbuhkan pikiran anak agar menjadi insan yang mengabdi kepada Tuhan.Mengembangkan akal pikiran manusia dan potensinya lewat eksperimen ilmiah. Memberikan kesmpatan akal untuk berlatih menganalisa dari peristiwa-peristiwa yang menimpa umat terdahulu dan sekarang untuk dijadikan pelajaran bagi kehidupan.

a. Belajar Menulis dan Membaca.

Di dalam buku Thobaqot Ibnu Sa’ad hal: 14 bagian 1 juz 2 dijelaskan, bahwa Nabi saw meminta kepada setiap tawanan perang Badar mengajarkan membaca dan menulis 10 anak muslim.
Kisah Ibunda Malik yang senantiasa memotivasi anaknya Imam Malik untuk menghadiri majlis-majlis ilmu.

Hasan Basri menasehati anaknya: “Wahai anakku, jika engkau duduk bersama ulama hendaknya engkau mendengar orang yang lebih semangat dari dirimu untuk mendengarkan apa yang engkau ingin katakan, belajarlah mendengar aktif, sebagaimana engkau belajar berkata-kata yang baik, jangan engkau potong pembicaraan orang walaupun panjang sampai ia berhenti bicara”.
Hasan bin Ali menasehati anak-anak dan keponakannya: Belajarlah-belajarlah, karena kalian masih kecil, agar menjadi generasi akan datang, siapa yang tidak mampu menghafal maka tulislah (pelajarannya)”. (Kitab al-kifayah fi ilmi ar-riwayah, Khatib al-Baghdadi hal 229).
Atho bin Abi Robah berkata kepada murid-muridnya: Anak-anak sekalian, tulislah, siapa yang belum dapat menulis, kami akan ajarkan menulis, siapa yang tidak punya kertas, kami akan berikan kertas itu”. (kitab al-muhadits al-fashl: 3). 

Tajuddin as-Subki mengkisahkan ppengalaman pribadinya: Sewaktu aku masih kecil, ayahku mengirimku kepada adz-Dzahabi setiap hari 2 kali pagi dan petang, sedangkan Imam al-Mazi aku datang kepadanya sepekan 2 kali, karena memang Imam adz-Dzahabi sangat sayang kepadaku, padahal ayahku lebih suka aku sering pergi belajar kepada Imam Mazi, beliau adalah seorang yang sangat berwibawa dan sulit senyum, maka aku lebih suka ke Imam adz-Dzahabi.. Setiap aku pulang dari Syeikh, ayahku selau menanyakan apa yang telah aku pelajari dari Syeikh (kitab ath-Thobaqot Tajuddin as-Subki, 10: 398-399).

Sumber: Cuplikan dari Tulisan DR. H.M. Idris A.Shomad M.A dengan judul :INTEGRITAS PENDIDIKAN ISLAM
Pendidikan Akhlak Dalam Islam