Home » » Etos Kerja Dalam Pandangan Islam

Etos Kerja Dalam Pandangan Islam

Islam merupakan  undang-undang dan sistem kehidupan yang lengkap, Ia terdiri dari aqidah dan syari'ah. Islam  memiliki ajaran yang mencakup semua aspek kehidupan manusia.  Masalah kerja pun tak lepas dari perhatian Islam.

Kerja menurut pandangan Islam merupakan  suatu keharusan dalam hidup guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Islam menganjurkan  umatnya agar bekerja dan mencari nafkah. Lebih dari itu Islam telah   menjadikan kerja sebagai  amalan manusia yang paling utama  dalam bertaqarrub kepada Allah swt.  
pict: http://hmongbuy.net
Kerja dalam Islam  memiliki kedudukan terhormat. Berbeda dengan pandangan  beberapa aliran filsafat dan agama lainnya, umpamanya ;

Filsafat Yunani Kuno amat  merendahkan kedudukan kerja. Bahkan memandang sebahagian kerja sebagai suatu kehinaan. Kerja yang tidak ada kaitannya dengan otak dianggap sebagai penyakit sosial yang harus dicela.    

Agama Yahudi dan Nasrani menganggap kerja sebagai siksaan dari Allah akibat dosa yang telah dilakukan Nabi Adam A.S. sewaktu di surga.

Baca juga :
Ciri-ciri dan karakteristik ekonomi dalam Islam

Kerja dalam al-Qur’an

Al Quran telah menyebutkan berbagai macam kerja dan industri penting yang mengisyaratkan  kedudukan kerja dalam Islam .Misalnya: 

1. Pembuatan besi . 
Allah berfirman :yang artinya ; Dan Kami ciptakan besi  yang padanya terdapat kekuatan  yang hebat dan manfaat  bagi manusa . ( al Hadid 25)

2. Masalah pertambangan:
Allah berfirman dalam surat Saba' ayat 12 :
Artinya : Dan Kami alirkan cairan tembaga  baginya (Sulaiman).

3. Pembuatan baju besi.
Allah berfirman dalam surat  al Anbiya' ayat 80 . :
Artinya; Dan telah Kami ajarkan kepada Daud cara membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu
.
4.Pembuatan perahu.     
Allah berfirman dalam  surat Hud ayat 37 :
Artinya : Dan buatlah bahtera itu  dengan pengawasan dan wahyu Kami.

Dan  masih banyak lagi jenis pekerjaan yang disebutkan dalam al Quran seperti : pembuatan rumah.(lih. al a'raaf 73),  Pembuatan baju (lihat Al a'raaf 26), kerajinan emas (lihat s. Al a'raaf 148), penyamakan kulit (lihat. Qs. An nahl : 80). dan lain sebagainya.

Para ahli fiqh Islam  berpendapat bahwa  kerja dengan tangan merupakan usaha yang paling bersih dalam mencari nafkah. Mereka bersandar pada hadits Rasulullah saw :

ما أكل احد طعاما قط خير من أن يأكل  من عمل يده وان نبي الله داود عليه السلام يأكل من عمل يده

Artinya : Tidaklah seseorang memakan makanan  lebih baik dari memakan dari  hasil usahanya sendiri. Sesunggunya Nabi Daud a.s. makan dari hasil usahanya sendiri.( H. R Miqdad bin Ma'di karib) .

Rasulullah dalam hadits lainnya menyatakan:

ان الله يحب العبد المؤمن المحترف

Artinya ; Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba mukmin yang bekerja secara profesional. ((HR. Bukhary) 

Dalam hadits Nabi lainnya dinyatakan :

من أمسى كالا من عمل يده أمسى مغفورا له

Artinya : Barangsiapa  pada waktu sore merasa lelah akibat bekerja maka ia akan diberi ampunan.

Dalam suatu Atsar disebutkan bahwa Rasulullah saw  mencium tangan yang bengkak akibat kerja, seraya berkata ;"inilah tangan yang dicintai Allah dan RasulNya.

Di antara yang diisyaratkan oleh Assunnah, bahwa para nabi yang memiliki derajat tertinggi telah menjadikan kerja sebagai  suatu jalan yang mesti ditempuhnya. Nabi Adam bekerja sebagai petani, Nuh sebagai pedagang,  Daud sebagai tukang besi, Musa sebagai penulis. Mereka semuanya telah bekerja sebagai penggembala kambing  pada masa kecilnya.

Dalam atsar disebutkan bahwa Nabi Idris adalah tukang jahit, Nabi Isa a.s. pada masa kecilnya bekerja sebagai tukang emas.  Nabi Muhammad saw, pada masa kecilnya bekerja sebagai  penggembala kambing dan pada masa remajanya  menjadi pedagang yang menjualkan barang daganagan orang lain.

Para sahabat yang dekat dengan Rasulullah juga  semuanya pekerja . seperti ;Khabbab bin al Aratt sebagai tukang besi, Abdullah bin Mas'ud sebagai penggembala kambing,  Sa'ad bin Abi Waqqash  sebagai pembuat anak panah,  zubeir bin Awwam sebagai tukang jahit, Salman al Farisi sebagai tukang cukur, dst...

Umar bin Khattab pernah berkata:"Ketika saya tertarik kepada seorang laki-laki, saya selalu bertanya; Apakah dia memiliki pekerjaan ?. Bila mereka menjawab : Tidak !' , maka ia tidak ada artinyanya lagi di hadapan mataku. 

Cinta pekerjaan  telah mendarah daging di kalangan umat Islam . Kita melihat  Para cendekiawan dan pemikir  muslim  bekerja dengan  tangannya  demi memenuhi kebutuhan  diri dan keluarganya, tanpa merasa hina sedikitpun.  Imam Ahmad bin Hambal salah seorang imam madzhab yang terkenal  bekerja sebagai tukang mengangkat barang di jalan bila tidak mendapatkan apa yang  harus dinafkahkannya. Demikian juga Abul Hasan Ahmad bin Muhammad al Quduury, seorang  tokoh di bidang fikih, telah bekerja sebagai tukang membuat periuk.

Source: Makalah Islam

Saat Bulan Ramadhan, sobat tidak boleh bermalas malasan, kenapa?
Baca ini:
Etos Kerja Muslim Dibulan Ramadhan

0 comments:

Post a Comment