Kisah Ibu Sriami, Seorang Wanita Mandiri

Advertisement
Oleh : Zuhro Rosyidah

Bu Sriami adalah cerminan perempuan mandiri pinggiran kota, warga  RT. 02 RW. 03 dusun Kendedes Kel. Candirenggo ini mulai menjadi pekerja rumahan jahit selimut bayi mulai tahun 2008. Ibu rumah tangga yang awal bulan maret ini genap berusia 44 tahun ini memiliki 2 orang anak laki-laki dan perempuan. Biduk rumah tangganya kandas sekitar tahun 2011, ketika suaminya yang beralih beberapa profesi mulai dari sales obat-obatan hingga jualan burger yang dengan sepenuh hati dibantunya, ketahuan berselingkuh dan lebih memilih selingkuhannya untuk mengayuh biduk rumah tangga. Sakit hati pastilah terjadi kepada dirinya, tapi sebagai seorang ibu maka menyelamatkan kehidupan diri dan anak-anaknya adalah tujuan utama. Putra pertama ikut suaminya tinggal di ibu kota sedang bu Sriami melanjutkan hidupnya bersama seorang putrinya di Singosari.

foto ibu Sriami
Pada tahun 2008 bu Sriami ditawari temannya untuk bekerja sebagai penjahit selimut bayi dengan harga Rp. 1.250,-/lembar, mulai saat itu bu Sriami mengambil garapan dengan 25 orang lainnya di daerah Rogonoto kecamatan Singosari. Disaat yang sama kebetulan oleh tetangganya disuruh berjualan kopi pada malam hari untuk melayani kebutuhan warga dan tokoh masyarakat yang berkegiatan di gedung olahraga disamping rumahnya. Pekerjaan yang tidak membutuhkan banyak tenaga, karena konsumen tinggal sms dan dibuatkan dirumah, lalu diantar dan ditinggal di gedung, baru pagi harinya gelasnya diambil. Ini merupakan pekerjaan yang menghasilkan cukup banyak pemasukan bagi bu Sriami, karena pekerjaan berjualan kopi lama kelamaan cukup menjanjikan maka pada 2014 bu Sriami berani mengambil cicilan sepeda motor.  

Saat ini upah menjahit selimut mengalami penurunan, dengan upah sebesar Rp. 1.000/lembar dan dikurangi dan dipotong biaya benang Rp. 10.000 (1 dosen) per 100 lembar selimut. Biasanya sehari dari jam 8 – 3 sore menghasilkan 20-21 lembar jika dikerjakan sendiri dan jika dibantu anaknya bisa mendapatkan 30 lembar.  


Semenjak mengikuti kegiatan di SPPR dan membentuk kelompok pekerja rumahan sedikit demi sedikit mulai berubahlah sikap bu Sriami, sekarang tidak hanya berani bicara dihadapan orang banyak, tetapi di PKK RT 01 sudah berani. menjelaskan tentang apa itu pekerja rumahan yang dibagi atas POS dan SE,  juga dipengajian RT. Sehingga masyarakat disekitar menjadi mengetahui tentang pekerja rumahan. Menjelaskan dan mengadvokasi terhadap pihak RT,  mengajak beberapa orang untuk ikut berkelompok karena tahu akan manfaat berkelompok. Bahkan waktu jambore perempuan di Jakarta, bu Sriami  berani berbicara dihadapan Deputi Menaker untuk membahas tentang pekerja rumahan, agar mendapatkan upah kerja yang layak dan jaminan kesehatan.


Pengembangan usaha juga sudah mulai dilakukan secara mandiri meskipun tetap dibidang selimut. Dengan membuat selimut sendiri dan dipasarkan sendiri yang dibantu oleh anaknya di Jakarta setiap bulan. Sampai saat ini sudah melakukan pengiriman  30 selimut sebanyak 3 kali dalam kurun waktu 5 bulan, disana dijual dengan harga Rp. 40.000,- untuk selimut dengan ukuran sedang (1,5 x 1,5 m) dan Rp. 50.000,- untuk ukuran lebih besar (XL) yaitu 2 meter persegi. 

Advertisement
Kisah Ibu Sriami, Seorang Wanita Mandiri