Home » » Contoh Proposal PKL (Praktik Kerja Lapangan)

Contoh Proposal PKL (Praktik Kerja Lapangan)

PROPOSAL
PRAKTEK KERJA LAPANGAN
(PKL)
INVENTARISASI VARIETAS PADI DI KECAMATAN LOWOKWARU KOTA MALANG
Dosen Pembimbing:
Dra. Ari Hayati, M.P

(logo kampus)

OLEH:
SARNO
205.06.1.0009

JURUSAN BIOLOGI LINGKUNGAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
2013

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Padi merupakan tanaman yang paling penting di negeri kita Indonesia ini. Betapa tidak karena makanan pokok di Indonesia adalah nasi dari beras yang tentunya dihasilkan oleh tanaman padi.(Sujatmoko, 2011) Padi dengan nama latin Oryza sp.menjadi komoditas pertanian bernilai ekonomis cukup tinggi. Selain di Indonesia padi juga menjadi makanan pokok negara-negara di benua Asia lainnya seperti China, India, Thailand, Vietnam dan lain-lain. Padi merupakan tanaman berupa rumput berumpun. Tanaman pertanian ini berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) sudah dimulai pada 3.000 tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur Uttar Pradesh India sekitar 100-800 SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal padi adalah Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos, Vietnam.(Anonim, 2011a)

Sektor pertanian di Indonesia memegang peranan strategis karena merupakan sebagai tumpuan hidup sebagian besar penduduk Indonesia, dimana hampir setengah dari penduduk Indonesia bekerja di sektor ini. Sebagai salah satu sarana pembangunan ekonomi, maka pembangunan sektor pertanian harus dapat ditingkatkan lagi, terutama dalam upaya meningkatkan produksi dari tiap cabang usahatani dan juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani di Indonesia. Keberhasilan pembangunan pertanian ditentukan oleh berbagai faktor antara lain faktor sumber daya alam, sumber daya manusia dan teknologi. Menyangkut sumber daya manusia erat kaitannya dengan petani dan keluarganya.(Anonim, 2012b)

Produktivitas pertanian secara langsung terkait dengan potensi genetik varietas yang digunakan. Perakitan varietas baru memerlukan ketersediaan plasma nutfah dengan keragaman genetik yang luas untuk digunakan sebagai tetua persilangan. Varietas lokal dalam hal ini padi lokal termasuk plasma nutfah yang perlu dilindungi keberadaannya guna perbaikan varietas di masa depan. Semakin menghilangnya keberadaan varietas padi lokal saat ini dikhawatirkan akan mengancam keragaman genetiknya. Pada kenyataannya, erosi benih lokal telah mulai menggejala dan besar kemungkinan berbagai varietas benih padi lokal akan lenyap. Identifikasi dan deskripsi mengenai keberadaan padi lokal sangat diperlukan untuk mencegah kepunahan varietas padi lokal.(Cicin, 2011)
foto padi cimelati
Dari penelitian (Cicin, 2011) ditemukan sepuluh varietas padi lokal malang raya yaitu Genjah Rawe dan Ketan Hitam di Kecamatan Wagir dan Ponco Kusumo, Siam, Ketan Gundil dan Ketan Gajih di Kecamatan Dau, Tambak Urang, Ketan Tawon dan Nongko Bosok di Karang Ploso, Sukonande dan Ketan Garangan di Kecamatan Tumpang dalam jumlah terbatas.

1.2. Perumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas ditentukan masalah pokok yaitu seberapa besar jumlah serta keberadaan varietas padi yang ada di wilayah kota Malang khususnya kecamatan Lowok waru

1.3. Tujuan PKL

1.3.1. Tujuan umum

Untuk menerapkan ilmu secara langsung yang didapatkan di perkuliahan dan menambah pengetahuan sekaligus sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian plasma nutfah asli Indonesia khususnya di kota Malang

1.3.2. Tujuan khusus

Menginventarisir varietas padi yang banyak ditanam di kota Malang khususnya kecamatan Lowokwaru

1.4. Manfaat PKL

1) Dapat memberikan informasi kepada masyarakat dan pemerintah daerah setempat tentang keberadaan varietas padi yang banyak ditanam di kecamatan Lowokwaru

2) Dapat dijadikan dasar pemerintah setempat serta instansi terkait dalam penyambilan keputusan mengenai pengendalian hayati

1.5. Batasan PKL

Daerah penelitian dilakukan pada daerah persawahan di kota Malang khususnya kecamatan Lowokwaru

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan umum kota malang

Kota malang merupakan salah satu daerah otonom dan kota besar kedua di Jawa timur setelah kota Surabaya, yang memiliki wilayah seluas 110,06 km2, yang terdiri dari 5 kecamatan dan 57 kelurahan. Kota Malang terletak pada koordinat 7o06 – 8o02 Lintang Selatan 112o06 – 112o07 Bujur Timur dengan ketinggian antara 339 – 662,5 meter dari permukaan laut. Karena letaknya cukup tinggi, kota Malang memiliki udara yang sejuk dengan suhu rata- rata 25,13oC dan kelembaban udara 72% serta curah hujan rata-rata 1,883 milimeter pertahun . Secara administratif daerah Kota Malang berbatasan langsung dengan daerah Kabupaten Malang yaitu:
  • 1) Sebelah Utara : Kecamatan Singosari dan Kecamatan Karangploso
  • 2) Sebelah Timur : Kecamatan Pakis dan Kecamatan Tumpang 
  • 3) Sebelah Selatan : Kecamatan Tajinan dan Kecamatan Pakisaji 
  • 4) Sebelah Barat : Kecamatan Wagir dan Kecamatan Dau
Sedangkan jumlah penduduk kota Malang berdasarkan data dari BPS tahun 2000 sebanyak 756.982 jiwa yang terdiri dari 375.103 laki – laki dan 381.879 jiwa perempuan. Seperti kondisi kota pada umumnya dimana hunian terpadat berada di pusat kota. Kecamatan Klojen merupakan jantung kota Malang merupakan hunian terpadat dengan tingkat kepadatan mencapai 13.307 jiwa perkilo meter persegi. Sedang tingkat kepadatan terendah berada di kecamatan Kedungkandang dengan jumlah penduduk 3.767 jiwa perkilo meter persegi.(Anonim, 2012c)

2.2. Potensi padi

Pembangunan pertanian pada umumnya sampai dengan tahun 2010 lalu sudah banyak varietas unggul nasional yang telah dilepas oleh Pemerintah dalam rangka upaya peningkatan produksi padi, tetapi masih banyak varietas padi lokal yang ditanam oleh petani, varietas-varietas lokal ini ditanam karena mempunyai daya adaptasi yang baik pada daerah-daerah tersebut, terutama pada lahan-lahan yang khusus (spesifik lokasi), dimana belum banyak varietas unggul nasional yang dilepas yang cocok untuk ditanam pada lahan tersebut, sehingga sampai sekarang masih terus ditanam/ dibudidayakan oleh petani.(Anonim, 2012d)

Dikarenakan varietas lokal ini mempunyai daya adaptasi yang baik pada lokasi tersebut, maka varietas ini mempunyai produktivitas yang cukup baik apalagi ternyata banyak varietas lokal yang mempunyai sifat tanaman yang lebih baik dari varietas unggul nasional yang telah dilepas oleh pemerintah.

Keunggulan ini dapat berupa :
  1. Produksi yang tinggi.
  2. Ketahanan pada hama penyakit.
  3. Ketahanan pada cekaman lingkungan, seperti kekeringan, genangan, dll).
  4. Daya adaptasi pada jenis lahan tertentu.
  5. Umur tanaman yang genjah.
  6. Rasa nasi yang disukai.
2.3. Deskripsi dan klasifikasi padi

2.3.1. Deskripsi padi

Padi ( Oryza sativa. ) termasuk suku rumput – rumputan dan berakar serabut. Padi beranak melalui tunas yang tumbuh dari pangkal batang sehingga membentuk rumpun. Setiap batang padi pada umumnya dapat beranak lebih dari satu baying. Tetapi tidak semua dari anak padi ini menghasilkan buah padi yang berkualitas, dalam arti untuk digunakan sebagai bibit. Tanaman padi berkembang biak dengan biji, artinya dapat ditanam dengan bijinya. Tetapi penanaman dengan biji sulit dilakukan. Oleh karena itu untuk memudahkan penanaman bibit padi harus disemai terlebih dahulu. Padi yang dijadikan bibit harus dipilih dari malai dan biji yang baik. Hal ini dimaksudkan agar tanaman padi benar – benar tanaman yang sempurna. Jadi langkah yang penting dalam pembibitan adalah seleksi. Kegagalan dalam seleksi terhadap bibit padi berakibat kegagalan dalam produksi padi, sebab hanya bibit padi yang baik menghasilkan malai yang baik(Wiryani, 1967 dalam alhikmahcrew.blogspot.com)

Di Indonesia, tanaman padi merupakan salah satu tanaman utama. Sebab tanaman ini merupakan penghasil makanan pokok di negeri ini. Tanaman padi dapat dibedakan berdasarkan varietasnya. Varietas tanaman padi ini banyak sekali. Dan hampir setiap tahun muncul dengan sifat genetik yang lebih baik.(Ihsan, 2011)

Secara umum, menurut (Ihsan, 2011) tanaman padi dibedakan dalam 2 jenis varietas :

1) Varietas padi Hibrida:

Arti mudahnya bisa dikatakan varietas padi sekali tanam, hasilnya akan maksimal bila sekali ditanam. Tetapi bila keturunannya ditanam maka hasilnya akan berkurang jauh. Memang varietas ini dibuat atau direkayasa oleh pemiliknya untuk sekali tanam saja. Harga benih hibrida sangat mahal, bisa mencapai 50ribu per kilo.

Contohnya, Intani 1 dan 2, PP1, H1, Bernas Prima, Rokan, SL 8 dan 11 SHS, Segera Anak, SEMBADA B3, B5, B8 DAN B9, Hipa 5 Ceva, Hipa 6 Jete, Hipa 7, Hipa 8, Hipa 9, Hipa 10, Hipa 11, dll

2) Varietas Padi Unggul :

Arti mudahnya varietas ini bisa berkali-kali ditanam dengan perlakuan yang baik. Hasil dari panen varietas ini bisa dijadikan benih kembali. Ada petani yang bisa menanam sampai 10 kali lebih dengan hasil yang hampir sama. Harga benih verietas ini murah, harganya bisa mencapai 5 ribu- 10 ribu per kilo. Contoh dari varietas ini yang banyak di tanam petani adalah CIHERANG (bisa mencapai 47 % dari total varietas yang ditanam), IR-64, Cimelati,Cibogo, Cisadane, Situ Patenggang, Cigeulis, Ciliwung, Mekonggga, Membramo,Sintanur, Jati luhur, Fatmawati, Situbagendit, Inpari 1-10, Inpari 11, Inpari 12 dan Inpari 13, dll. Sedangkan dari BATAN telah mengeluarkan varietas : Cilosari, Diahsuci, Bestari, Inpari Sidenuk, Pandan Putri dll. Pada tahun 2010/2011 untuk varietas Inpari, INPARI 13 lah yang banyak banyak ditanam petani. Pemerintah ingin agar INPARI 13 menggeser varietas ciherang yang paling banyak ditanam petani. Untuk tahun 2011 juga, Balai Benih Padi telah mengeluarkan varietas terbaru dengan keunggulan yang lebih baik seperti : Inpari 14 Pakuan, Inpari 15 Parahyangan, Inpari 16 Pasundan, Inpari 17, Inpari 18, Inpari 19, Inpari 20 dll.

2.3.2. Klasifikasi padi

Menurut (Sujatmoko, 2011) klasifikasi botani tanaman padi adalah sebagai berikut:
  • Regnum : Plantae
  • Divisio : Spermatophyta
  • Sub divisio : Angiospermae
  • Classis : Monocotyledonae
  • Ordo : Poales
  • Familia : Gramineae (Poaceae)
  • Genus : Oryza
  • Spesies : Oryza sativa L.
2.4. Jenis – jenis padi

a. Padi gogo

Di beberapa daerah tadah hujan orang mengembangkan padi gogo, suatu tipe padi lahan kering yang relatif toleran tanpa penggenangan seperti di sawah. Di Lombok dikembangkan sistem padi gogo rancah, yang memberikan penggenangan dalam selang waktu tertentu sehingga hasil padi meningkat.

b. Padi rawa

Padi rawa atau padi pasang surut tumbuh liar atau dibudidayakan di daerah rawa-rawa. Selain di Kalimantan, padi tipe ini ditemukan di lembah Sungai Gangga. Padi rawa mampu membentuk batang yang panjang sehingga dapat mengikuti perubahan kedalaman air yang ekstrem musiman.

c. Padi Pera

Padi pera adalah padi dengan kadar amilosa pada pati lebih dari 20% pada berasnya. Butiran nasinya jika ditanak tidak saling melekat. Lawan dari padi pera adalah padi pulen. Sebagian besar orang Indonesia menyukai nasi jenis ini dan berbagai jenis beras yang dijual di pasar Indonesia tergolong padi pulen.

d. Padi Ketan

Ketan (sticky rice), baik yang putih maupun merah/hitam, sudah dikenal sejak dulu. Padi ketan memiliki kadar amilosa di bawah 1% pada pati berasnya.

e. Padi Wangi

Padi wangi atau harum (aromatic rice) dikembangkan orang di beberapa tempat di Asia, yang terkenal adalah ras Cianjur Pandanwangi (sekarang telah menjadi kultivar unggul) dan rajalele. Kedua kultivar ini adalah varietas javanica yang berumur panjang.

BAB III
METODOLOGI

3.1. Tempat dan waktu PKL

Praktek kerja lapangan ini dilaksanakan di daerah persawahan kecamatan Lowok waru kota Malang dan Green House Fakultas MIPA Unisma pada bulan Juni 2012 dan Mei 2013

3.2. Metode PKL

Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode diskriptif yaitu pengamatan (observasi) secara langsung dilapangan, wawancara dengan penduduk setempat serta studi pustaka

3.3. Prosedur PKL

3.3.1. Persiapan

Diawali dengan survey pendahuluan di lapangan untuk mendapatkan informasi lokasi, kemudian dilakukan pengamatan terhadap nama jenis padi lokal, karakter morfologi dan agronomis, selain itu juga dilakukan wawancara terhadap petani pemilik sawah tentang nama padi yang mereka tanam dan hasil dokumentasi berupa photo dari padi yg ditanam. Dalam PKL ini digunakan alat dan bahan adalah sebagai berikut: Alat yang digunakan adalah meteran, hand counter, alat tulis, kamera digital, dan buku panduan sistem karakterisasi dan evaluasi tanaman padi sebagai acuan dalam melakukan pengamatan yang diterbitkan oleh IRRI. Bahan yang digunakan adalah beberapa varietas padi lokal sebagai obyek pengamatan.

3.3.2. Pengambilan sampel

Untuk mendapatkan sampel dilakukan cara pengamatan secara Exploration sampling yaitu menjelajahi seluruh wilayah yang telah ditentukan, pada setiap pengamatan dilakukan pencatatan mengenai semua varietas padi yang tumbuh didaerah tersebut dan diambil gambar pada setiap varietas padi yang ditemukan dengan menggunakan kamera digital

3.3.3. Identifikasi

Sampel yang sudah didapat diidentifikasi dengan menggunakan buku identifikasi antara lain ; Buku panduan sistem karakterisasi dan evaluasi tanaman padi sebagai acuan dalam melakukan pengamatan yang diterbitkan oleh IRRI, jurnal ilmiah tentang padi (situs website)

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Lokasi Praktik Kerja Lapangan (PKL)

Penelitian ini dilakukan di daerah persawahan kecamatan Lowok Waru kota Malang pada bulan Mei 2013. Secara administratif kecamatan Lowok Waru berbatasan langsung dengan kabupaten Malang disebelah barat yakni kecamatan Karang ploso dan kecamatan Singosari di sebelah Utara, serta kecamatan Blimbing dan Kecamatan Klojen di sebelah timur dan Selatan.

Kecamatan Lowok Waru terbagi menjadi 10 kelurahan dan 2 desa, yaitu: Kelurahan Tlogomas, Kelurahan Merjosari, Kelurahan Dinoyo, Kelurahan Sumbersari, Kelurahan Ketawanggede, Kelurahan Jatimulyo, Kelurahan Lowokwaru, Kelurahan Tulusrejo, Kelurahan Mojolangu, Kelurahan Tunjungsekar dan Desa Tunggulwulung serta Desa Tasikmadu. Pengambilan sampel dilakukan diseluruh lokasi persawahan kecamatan Lowok Waru dengan menggunakan metode Exploration sampling, mencatat dan mendokumentasikan sampel yang ditemukan untuk diidentifikasi menggunakan buku panduan tentang padi serta informasi dari internet (website). Selain itu juga dilakukan wawancara dengan pemilik sawah untuk mengetahui varietas padi yang mereka tanam.

4.2. Hasil Inventarisasi varietas padi di kecamatan Lowok Waru Kota Malang

Dari hasil inventarisasi di kecamatan Lowok waru kota Malang didapatkan data sebagaimana tabel dibawah ini:

Tabel 1 : Data Frekuensi Varietes Padi di Kecamatan Lowok Waru Kota Malang

Wilayah
Keberadaan varietas Padi
Frekuensi
IR 64
Ciherang
Membramo
Cibogo
Cimelati
Inpari 6
Inpari 13
Kel.Tlogomas








Kel. Merjosari








Kel. Dinoyo








Kel. Sb.Sari








Kel. Ketawanggede








Kel. Jatimulyo








Kel. Lowok Waru








Kel. Tulusrejo








Kel. Mojolangu








Kel. Tunjungsekar








Desa Tasik Madu








Desa Tunggul Wulung


















Dari tabel diatas menunjukkan bahwa 

4.3. Identifikasi varietas padi yang ditemukan di kecamatan Lowok Waru kota Malang

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2011a. http://elibrary.ub.ac.id/handle/123456789/30686 Diakses tanggal 3 Juni 2012
Anonim, 2011b. Potensi Padi Di Indonesia.Artikel: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29391/5/Chapter%20I.pdf. Diakses tanggal 3 Juni 2012
Anonim, 2012c. Tinjauan Umum Kota Malang. Artikel: http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-6861-1405100011-Bab1.pdf. Diakses tanggal 3 Juni 2012
Anonim, 2012d. Padi lokal spesifik lokasi unggulan jawa timur. Artikel: http://informasi-benih.blogspot.com/2012/03/varietas-lokal-jatim.html. Diakses tanggal  29 Mei 2012
Cicin, 2011.Studi Keberadaan Padi Lokal Di Malang Raya. Artikel: http://elibrary.ub.ac.id/handle/123456789/30686. Diakses tanggal 3 Juni 2012
Ihsan, 2011.Jenis-Jenis Padi Yang Banyak Ditanam Petani. Artikel: http://ceritanurmanadi.wordpress.com/2011/08/07/jenis-jenis-varietas-padi-yang-ditanam-di-indonesia/. Diakses tanggal  29 Mei 2012
Sujatmoko, 2011. Sekilas Tentang Tanaman Padi. Artikel: http://htn-alatpertanian.blogspot.com/2011/03/sekilas-tentang-tanaman-padi.html. Diakses tanggal  29 Mei 2012
Wiryani, 1967. Teknik Pengujian Daya Kecambah Benih Padi (Oryza Sativa) Yang Diberi Perlakuan KNO3.0,2% Dengan Metode Pkdp (Pada Kertas Gulung Dalam Plastik) Artikel: http://alhikmahcrew.blogspot.com/2009/11/teknik-pengujian-daya-kecambah-benih.html Diakses tanggal 4 Juni 2012


0 comments:

Post a Comment