Home » , » Pendapat Beberapa Golongan (Jabariyah-Qadariyah-Ahlussunnah) tentang Qodha dan Qadar

Pendapat Beberapa Golongan (Jabariyah-Qadariyah-Ahlussunnah) tentang Qodha dan Qadar

qhada dan qadar infojempol
Pokok-pokok yang menjadi sumber perbedaan pendapat yang timbul dikalangan Umat Islam, mula mula mengenai sifat-sifat Allah, apakah sifat itu dzat Allah sendiri atau ciptaan yang terlepas dari dzat-Nya. Termasuk pembicaraan tentang Qodha dan Qadar, disamping hal hal yang lain. Baiklah kita perhatikan perbedaan pendapat dalam masalah ini antara beberapa golongan

1. Golongan Jabariyah
ilustrasi jabariyah infojempol
Pelopor faham ini adalah Jaham bin Shafwan, maka gerakan ini juga sering disebut Jahamiyah. Pada mulanya golongan ini berpendapat bahwa manusia adalah dalam keadaan terpaksa, tidak bebas dan tidak mempunyai kekuasaan apapun. Allah sajalah yang menentukan segala sesuatu kepada manusia.

Jadi menurut faham Jabariyah, bahwa Allah SWT yang membuat pekerjaan kepada manusia, sebagaimana Allah membuat batu dan kayu, menggerakkan angin, mengalirkan air dan lain sebagainya. Dengan keyakinan tersebut, semua perbuatan manusia termasuk nasibnya sudah ditentukan sejak jaman dahulu/ jaman azali. Hal ini didasarkan kepada firman Allah SWT. yang artinya:
"Dan sesungguhnya Allah lah yang menciptakan kamu dan apa-apa yang kamu perbuat (QS.As Shafat:96)
"Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki oleh Allah Tuhan semesta alam (QS. At Taqwir:29)
Pendapat Jabariyah di atas, apabila dipegangi secara kaku, sesungguhnya berbahaya dalam kehidupan sehari-hari, sebab dapat menjadikan manusia menjadi seorang yang pesimis dan apatis dalam hidupnya, karena merasa tidak ada keleluasaan dalam berusaha kecuali hanya menyerahkan segala sesuatunya kepada takdir Allah semata.

2. Pendapat Qadariyah
ilustrasi qadariyah infojempol.com

Faham ini muncul kira kira pada tahun 70H, yang dipelopori oleh Ma'bad Al Jauhami dan Ghailan Al Dimasqi. Munculnya faham ini pertama kali di Irak pada masa pemerintahan Abdul Malik Al Marwam.

Aliran ini berpendapat bahwa manusia mempunyai kekuasaan mutlak atas dirinya dan segala amal perbuatannya. Dengan kemauan dan kekuasaan sendiri manusia dapat berbuat baik dan buruk tanpa kekuasaan lain yang memaksanya. Dasar ketentuan ini adalah adanya pahala dan siksa, bagi mereka yang berbuat baik akan mendapatkan pahala, sedangkan mereka yang berbuat buruk akan mendapatkan siksa. Hal tersebut tidak akan terlaksana apabila perbuatan manusia tidak dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab atas segala perbuatannya. Aliran ini memiliki banyak persamaan dengan aliran Mu'tazilah, dan bertentangan dengan aliran Ahlussunnah Wal Jamaah

Diantara dalil-dalil yang dijadikan pedoman oleh golonganQadariyah ini adalah ayat alquran, yang artinya:
"Dan katakanlah! kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang kafir, biarlah ia kafir. (QS. Al Kahfi:29)
"Sesungguhnya Kami telah menunjukkannya jalan yang lurus, ada yang bersyukur/mengikutinya ada pula yang kafir. (QS.Al Insan:3)
baca juga: Pembagian Hadits/Sunnah Menurut Jumlah Sanadnya
3. Ahlussunnah Wal Jamaah
ilustasi ahlussunnah infojempol.com
Dalam masalah Ilmu Tauhid, Ahlussunnah Wal Jamaah mengikuti rumusan Abdul Hasan Ali Al Asy'ari (Basrah 260H/873M), beliau inilah yang pertama kali menyusun ilmu Tauhid, kemudian disempurnakan oleh Abu Mansyur Al Maturidi dan murid muridnya yang lain.

Dalam masalah Qadha dan Qadar kedua tokoh tersebut sama-sama mengemukakan pendapatnya yang senada, meskipun ada sedikit penekanan yang agak berbeda, yakni:
  1. Imam Abdul Hasan Ali Al Asy'ari berpendapat bahwa perbuatan manusia bukanlah diwujudkan oleh manusia sendiri, melainkan diciptakan Tuhan. Tetapi dalam mewujudkan perbuatan itu, manusia mempunyai bagian, walaupun bagian itu tidak efektif, yang disebut dengan Al Kasbu. Kasbu ialah bersamaanya kemampuan seseorang dengan perbuatannya. Dengan Kasbu itulah maka seseorang bertanggungjawab atas segala akibat baik atau buruk dari perbuatannya.
  2. Menurut Abu Mansyur Al Maturidi, Tuhan telah menciptakan sesuatu serta menetapkan ukuran-ukurannya (Qadar), termasuk qadar baik dan buruk, namun manusia dengan akalnya dapat memilih mana perbuatan yang baik dan mana yang buruk, manusia diberi kebebasan untuk melakukan usahanya sesuai dengan kehendaknya.
Referensi: buku konsepsi Aswaja dalam bidang aqidah dan syariah

Demikianlah sedikit uraian mengenai beberapa pendapat dalam masalah qadha dan qadar. Semoga artikel ini dapat memberikan sedikit wawasan bagi teman-teman mengenai masalah perbedaan pandangan tentang qadha dan qadar.
Bilamana ada masukan atau pendapat lain dari teman-teman, silahkan berkomentar

Mungkin teman-teman belum begitu faham tentang apa saja fungsi masjid, dapat dibaca artikel berikut ini:
9 Fungsi Masjid Yang Wajib Kamu Ketahui
Terimakasih semoga bermanfaat, dan terus ikuti informasi dan pendidikan lain di infojempol

1 comments: