Home » » 9 Alasan Orang Tidak Ingin Pergi Ke Psikolog / Psikiater

9 Alasan Orang Tidak Ingin Pergi Ke Psikolog / Psikiater

foto ilustrasi 
Kita mungkin telah mengetahui bahwa secara garis besar penyakit itu dibedakan menjadi dua, yaitu penyakit fisik dan penyakit mental. Mayoritas orang menyadari bahwa tidaklah mudah untuk mendapatkan pengobatan penyakit mental.

Temuan luar biasa oleh Organisasi Kesehatan Dunia, yaitu sebuah laporan tahun 2004  tentang tingkat penggunaan perawatan psikiatri di 37 studi penelitian  antara 30 dan 80 persen orang dengan masalah kesehatan mental yang tidak pernah menerima pengobatan mental. Dari analisis tersebut, tingkat non-pengobatan rata-rata untuk gangguan tertentu adalah: schizophrenia (32%), gangguan bipolar (50%), kepanikan (55%), depresi berat(56%), gangguan kecemasan umum (57%) gangguan obsesi compulsive (59%), dan ketergantungan alkohol (78%). Angka tersebut mungkin lebih rendah dibandingkan dengan kenyataan di lapangan.


Kasus di lapangan menunjukkan bahwa orang-orang yang mengalami gangguan penyakit mental tidak mendapatkan perawatan yang semestinya. Lalu yang menjadi pertanyaannya adalah, "Mengapa mereka tidak mendapatkan pengobatan mental?" atau mungkin "Mengapa mereka enggan untuk pergi ke Psikolog/ Psikiater.

Berikut ini adalah alasan-alasan umum Orang Tidak Ingin Pergi Ke Psikolog / Psikiater:

1. Takut
Yah, ini adalah alasan paling umum yang terjadi disetiap orang yang mengalami gangguan psikologis. Mereka merasa takut untuk datang ke Psikolog atau Psikiater. Ketakutan tersebut bukan hanya pada proses terapi yang akan dilakukan, tapi juga takut akan pandangan orang orang terhadap dirinya, bahkan dia juga takut kalau tandatangannya ke psikolog akan berdampak negatif terhadap bisnis atau pun karir nya.
baca:Bagaimana Cara Menghilangkan Perasaan Cemas atau Khawatir?
2. Malu
Malu juga menjadi salah satu alasan yang paling mendasar bagi kebanyakan orang untuk pergi ke psikolog. Mereka merasa malu karena akan dianggap atau dicap "gila" oleh orang orang yang ada di sekitarnya

3. Kurangnya Wawasan
Saat seseorang menunjukkan tanda yang jelas bahwa dirinya mengalami sakit mental, namun dirinya mengatakan "Tidak! aku tidak apa apa" atau "Tenang, aku baik-baik saja". itu berarti merupakan sinyal bahwa kurangnya wawasan tentang fisioterapi. Ini terjadi pada lebih dari 50% orang. mereka cenderung merasa bahwa mereka tidak sakit, dan juga tidak memerlukan bantuan dari siapapun, khususnya psikolog.

4. Minimnya Kesadaran
Seseorang yang menunjukkan tanda penyakit mental, sebagian akan menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan mental tersebut. Namun mereka memilih untuk tidak meminta bantuan kepada sang ahli dalam memecahkan kasus yang tengah mereka hadapi. Mereka cenderung akan berkata " setiap orang pasti akan stress", "Masalah saya tidak terlalu besar kok", "tenang, nanti juga semuanya akan baik-baik saja".

5. Tidak Mau Menerima Kenyataan.
Ini yang akan terjadi jika seseorang, pergi ke psikolog dan kemudian mendapatkan penjelasan bahwa ada sesuatu yang "salah" pada dirinya. Dia cenderung akan menolak fakta yang ada, dia dengan tegas akan berkata "saya tidak sakit!"

6. Ketidakpercayaan
Orang yang memiliki permasalahan mental, kemudian dia harus datang ke orang yang tidak dikenal (psikolog), kemudian menceritakan semua yang  tengah ia hadapi. hal tersebut menjadi kekhawatiran tersendiri baginya. Ia merasa tidak percaya dan khawatir kalau apa yang ia sampaikan tidak tersimpan rapi oleh psikolog tersebut.

7. Putus Asa.
Benar, jika seseorang, siapapun itu, ketika rasa putus asa telah menghampirinya, setengah dari kehidupannya dianggap hancur. Terlebih jika rasa putus asa itu terjadi pada orang yang mengalami gangguan mental, ia akan mengklaim bahwa dirinya tidak akan sembuh atau menjadi lebih baik meskipun datang ke seorang ahli.

8. Tidak Tersedianya Layanan Kesehatan Mental
Hal ini akan terjadi di beberapa daerah luar ibukota, daerah pedesaan yang jauh dari akses kesehatan. Indonesia juga merupakan salah satu negara yang masih memiliki banyak tempat tempat terpencil yang jauh dari akses layanan umum. Mereka yang ingin menggunakan jasa seorang psikolog pun akan kebingungan mendapatkan informasi. Akhirnya mereka lebih memilih untuk membiarkan masalah yang ia hadapi.

9. Mahal
Tidak bisa dipungkiri bahwa biaya seorang psikolog itu mahal. BBJS di Indonesia tidak mencakup pengobatan yang berhubungan dengan penyakit mental, benar kan?. Mereka yang merasa tidak mampu untuk membayar seorang psikolog, akan lebih memilih menggunakan uang  mereka untuk beli beras, indonesia gitu..

Itu adalah 9 Alasan Orang Tidak Ingin Pergi Ke Psikolog / Psikiater yang saya kutip dari Davidsusmen. Tapi apapun alasan seseorang tidak ingin ke psikolog, itu harus ketap kita hargai, karena itu adalah keputusannya. Karena dia telah mengambil keputusan itu dengan berbagi pertimbangan yang matang.
Cara Mengambil Keputusan yang Baik dan Benar
Pada kenyataannya kita sebagai warga negara Indonesia masih belum bisa merasakan pelayanan umum tentang kesehatan yang diberikan oleh pemerintah. kesejahteraan masyarakat seolah olah bukan menjadi prioritas pemerintah. Lihat saja, BBJS yang digadang gadang mampu memberikan pelayanan publik juga dirasa aplikasinya kurang maksimal, itu bukan karena sistem, namun oknum tertentu yang kurang bisa diajak kerjasama dalam memberikan pelayan kesehatan di masyarakat.

Terimakasih atas kunjungan sobat ke infojempol, dan semoga artikel ini bermanfaat.

0 comments:

Post a Comment